Bengkayang, Kalbar – Polres Bengkayang memperkuat sinergi lintas sektor dalam upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui program Green Policing. Kegiatan sosialisasi tersebut digelar di Cafe Kopi Dari Hati, Kecamatan Bengkayang, Jumat (6/11/2026).
Kegiatan yang dipimpin Wakapolres Bengkayang Kompol Suparwoto, S.I.P., itu dihadiri perwakilan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Bengkayang, Manggala Agni, pemerintah kecamatan dan desa, tokoh adat, hingga relawan pemadam kebakaran.
Tidak hanya di tingkat Polres, kegiatan serupa juga dilaksanakan oleh 15 polsek jajaran Polres Bengkayang. Mengusung tema “Sosialisasi Penanganan Karhutla untuk Menjaga Kelestarian Alam”, kegiatan tersebut menjadi bentuk implementasi program Green Policing hingga ke wilayah kecamatan dan desa. Melalui kegiatan ini, jajaran kepolisian mengajak masyarakat meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan, mencegah pembakaran hutan dan lahan, serta memperkuat sinergi dalam menjaga kelestarian alam.
Dalam sambutannya, Suparwoto menyampaikan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kerja sama seluruh pihak. Menurut dia, sinergi yang telah terjalin selama ini menjadi salah satu faktor penting dalam menangani karhutla di Kabupaten Bengkayang.
“Karhutla bukan hanya persoalan daerah, tetapi juga menjadi perhatian internasional karena dampak asapnya dapat meluas hingga ke negara lain. Karena itu, diperlukan kepedulian dan kerja sama semua pihak untuk mencegah serta menangani kebakaran hutan dan lahan,” ujar Suparwoto.
Ia menjelaskan, karhutla dapat menimbulkan berbagai dampak serius, mulai dari kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati, gangguan kesehatan akibat kabut asap, kerugian ekonomi, hingga peningkatan emisi karbon yang berpengaruh terhadap perubahan iklim.
Suparwoto juga menyampaikan bahwa berdasarkan data yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut, pada 4 November 2026 tercatat sebanyak 2.267 titik panas atau hotspot yang tersebar. Kondisi itu menunjukkan bahwa karhutla masih menjadi perhatian bersama dan membutuhkan langkah pencegahan serta penanganan secara berkelanjutan.
“Polres Bengkayang terus bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan untuk memberikan imbauan dan sosialisasi hingga ke desa-desa. Kami juga masih melaksanakan berbagai langkah akselerasi, mulai dari patroli terpadu, pengecekan embung air, verifikasi hotspot, pemadaman, pembagian masker, pemeriksaan kesehatan, hingga penegakan hukum,” katanya.
Selain itu, Polres Bengkayang telah menyediakan rumah oksigen bagi masyarakat yang terdampak karhutla. Pembangunan sumur bor di jajaran polsek juga dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan air masyarakat, khususnya ketika musim kemarau.
Dalam penanganan karhutla, Suparwoto menegaskan bahwa kepolisian tetap memperhatikan kearifan lokal dan menghormati adat istiadat masyarakat setempat. Ia juga mengajak masyarakat segera menghubungi Call Center 110 apabila membutuhkan kehadiran polisi.
Sementara itu, perwakilan Manggala Agni Kabupaten Bengkayang, Robinus Robby, menjelaskan bahwa wilayah pesisir seperti Kecamatan Sungai Raya dan Sungai Raya Kepulauan perlu mendapat perhatian khusus karena memiliki lahan bertekstur gambut yang lebih sulit dipadamkan ketika terbakar.
Ia menyarankan agar pembangunan sumur bor di wilayah pesisir terus diperkuat serta dukungan personel ditingkatkan untuk mengantisipasi kebakaran pada musim kemarau. Ia juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai potensi banjir dan tanah longsor seiring masuknya musim penghujan.
Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) Kecamatan Bengkayang, Yulius Heri, turut mengapresiasi kesigapan Tim Satgas Karhutla Kabupaten Bengkayang dalam menangani kebakaran selama 2026. Ia juga mengapresiasi langkah Polres Bengkayang membangun sumur bor dan menyalurkan air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan saat musim kemarau.
Melalui kegiatan Green Policing ini, Polres Bengkayang berharap kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan semakin meningkat. Masyarakat juga diingatkan agar tidak membuka lahan atau kebun dengan cara membakar serta memahami dampak dan konsekuensi hukum dari pembakaran hutan dan lahan.
Program ini diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi menjadi gerakan bersama untuk membangun kepedulian ekologis, menjaga lingkungan, dan mewariskan alam yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Red: Edy S
Sumber: Humas




















